Presiden La Liga, Javier Tebas, menegaskan bahwa era Infantino berakhir. Menurutnya, posisi Gianni Infantino sebagai presiden FIFA tidak bisa lagi dipertahankan karena dinilai merusak esensi sepak bola. Tebas juga menyerukan reformasi menyeluruh di level tertinggi sepak bola dunia.
Pernyataan itu disampaikan Tebas dalam wawancara dengan harian Prancis, Le Monde. Sebagai salah satu kritikus paling vokal terhadap kepemimpinan FIFA saat ini, Tebas memang sudah lama menyuarakan keberatannya. Namun seruan kali ini datang di tengah tekanan besar yang dihadapi Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang.
Pernyataan Tebas: “Proyek Infantino Hancurkan Liga Nasional”
Dalam wawancara itu, Tebas mengulang kembali tuntutannya agar Infantino mundur. Ia menegaskan bahwa penilaiannya bukan didasarkan pada peristiwa terbaru, melainkan pada gaya manajemen yang sudah lama ia perhatikan. Menurut Tebas, banyak pihak baru menyadari hal ini sekarang padahal ia sudah melihatnya sejak lama.
“Bagi saya, zaman Gianni Infantino sudah lama berlalu,” ujar Tebas. Ia menambahkan bahwa Infantino bukanlah sosok yang mendorong pertumbuhan sepak bola. Sebaliknya, proyek-proyek yang dijalankan justru menghancurkan esensi olahraga ini, terutama liga-liga nasional.
Pernyataan paling tajam muncul ketika Tebas berbicara tentang arah masa depan FIFA. “Sepak bola tidak terbatas pada elite. Bagi saya, era Infantino sudah berakhir,” katanya. Ia juga berharap suksesi nanti tidak sekadar mengganti orang, melainkan membawa perombakan yang sungguh-sungguh.
Kronologi Tekanan terhadap Infantino
Infantino kini berjuang mempertahankan jabatannya di tengah upaya terkoordinasi para pejabat sepak bola Eropa untuk menjatuhkannya. UEFA telah menyatakan bahwa kepemimpinan Infantino di sepak bola dunia tidak bisa dipertahankan. Federasi Sepak Bola Norwegia juga menyerukan agar presiden berusia 56 tahun asal Swiss itu mundur.
Sejumlah asosiasi sepak bola Eropa bahkan menarik kembali surat dukungan untuk Infantino agar kembali memimpin FIFA. Tekanan ini muncul setelah adanya rencana rahasia untuk menjual sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta. Rencana tersebut kemudian dibatalkan, tetapi menjadi bahan kritik yang memperkuat kampanye untuk menggulingkan Infantino.
Kritik Tebas terhadap Infantino sebenarnya bukan hal baru. Ia bahkan sudah menyerukan agar Infantino mundur setelah Piala Dunia, jauh sebelum rencana penjualan saham Piala Dunia itu mencuat. Namun koordinasi yang semakin rapi di kalangan pejabat Eropa menunjukkan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Infantino kini makin meluas.
Kontroversi Pembayaran Pesangon Karyawan UEFA
Pada Sabtu, UEFA mengonfirmasi telah melakukan pembayaran pesangon kepada seorang karyawan perempuan. Karyawan itu diduga menjalin hubungan dengan Infantino ketika ia masih menjabat sekretaris jenderal UEFA lebih dari satu dekade lalu. Daily Telegraph melaporkan pada Jumat malam bahwa perempuan tersebut menerima uang dengan jumlah enam digit setelah dugaan hubungan itu.
FIFA langsung membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya “sama sekali tidak benar”. Bantahan ini menjadi respons cepat di tengah meningkatnya tekanan terhadap Infantino. Meski begitu, kasus ini menambah daftar panjang kontroversi yang membayangi FIFA menjelang pemilihan presiden.
Respons FIFA dan Dukungan di Luar Eropa
Pada Sabtu malam, FIFA menerbitkan pernyataan yang menuduh para kritikus Infantino berusaha menyingkirkannya sebelum pemilihan presiden bulan Maret. FIFA menilai upaya tersebut dilakukan melalui tuduhan, insinuasi, dan informasi keliru
Sebanyak sembilan dari 20 klub akan memulai musim 2026-27 dengan manajer baru, menjadikan ini salah satu musim dengan pergantian manajer Premier League paling masif dalam sejarah kompetisi. Opta mencatat bahwa hanya musim 1888-89 dan 1946-47 yang memiliki jumlah debutan pelatih sebanyak ini di awal musim, dua musim yang lahir dari situasi tidak normal. Meski begitu, tingkat turnover musim panas ini justru terasa wajar, padahal keamanan kerja manajer Premier League belum pernah berada di titik terendah seperti sekarang.
Fenomena ini mencerminkan betapa kerasnya kompetisi sepak bola Inggris saat ini. Tekanan hasil instan, tuntutan finansial, dan campur tangan pemilik klub membuat kursi kepelatihan semakin panas. Dengan tambahan Roberto De Zerbi yang dikonfirmasi pada Maret dan Michael Carrick pada Mei, musim ini akan dihuni 11 tim yang dilatih pelatih dengan masa kerja kurang dari satu tahun.
Rekor Turnover Manajer Premier League di Awal Musim
Opta mengungkapkan bahwa belum pernah ada musim dengan begitu banyak manajer yang memulai debutnya di klub papan atas Inggris. Musim 1888-89 adalah musim perdana liga sepak bola Inggris, sementara 1946-47 merupakan musim pertama setelah Perang Dunia II berakhir. Kedua musim itu berlangsung dalam kondisi yang tidak normal, berbeda jauh dengan situasi musim panas 2026 ini yang terasa biasa saja.
Median masa jabatan manajer Premier League di awal musim juga belum pernah serendah sekarang. Sebanyak 11 dari 20 klub akan dilatih oleh sosok yang duduk di kursi kepelatihan mereka kurang dari satu tahun. Angka ini menjadi bukti bahwa klub-klub Inggris semakin tidak sabar memberi waktu bagi pelatihnya untuk membangun tim.
Gelar Juara Manajer Premier League Kian Menipis
Musim yang paling mirip dengan kondisi saat ini adalah 2016-17. Ketika itu, 10 klub memiliki manajer dengan masa kerja di bawah satu tahun, namun deretan pelatih anyar diisi nama-nama besar seperti Antonio Conte, Pep Guardiola, Jürgen Klopp, dan José Mourinho. Semua nama tersebut sudah atau kemudian terbukti memenangkan Premier League, suatu kemewahan yang tidak dimiliki era sekarang.
Keadaannya kini jauh berbeda. Mikel Arteta menjadi satu-satunya manajer yang pernah meraih gelar juara liga Inggris yang akan memulai musim 2026-27 dengan kesempatan untuk mengulang pencapaian itu. Dua tahun lalu juga hanya ada satu manajer dengan status serupa, yaitu Guardiola dengan lemari trofinya yang penuh.
Karena Arteta baru mengoleksi satu gelar, musim ini mencatatkan jumlah trofi liga Inggris terkecil di awal musim dalam sejarah era Premier League. Rekor sebelumnya adalah tiga gelar pada 1995-96, berkat dua trofi Alex Ferguson dan satu milik Howard Wilkinson, serta 2019-20 lewat dua gelar Guardiola dan satu Manuel Pellegrini. Fakta ini menunjukkan bahwa pengalaman juara di bangku kepelatihan kini semakin langka.
Manajer Inggris Semakin Tersisih dari Premier League
Turunnya usia dan pengalaman manajer tidak otomatis membuka pintu bagi pelatih lokal. Median usia manajer Premier League saat ini adalah 46,9 tahun, angka yang sama dengan awal musim 2024-25 dan terakhir kali lebih muda dari itu terjadi 20 tahun lalu. Namun jumlah manajer asal Inggris tetap minim dan tidak pernah bertambah signifikan.
Kepergian Eddie Howe dari Newcastle membuat musim 2026-27 hanya dihuni tiga manajer Inggris: Michael Carrick, Frank Lampard, dan Gary O’Neil. Menariknya, trio ini berbeda dari musim lalu yang diisi Howe, Scott Parker, dan Graham Potter. Dua dari tiga manajer Inggris musim ini menangani klub yang baru promosi, sementara dua dari trio musim lalu berakhir dengan klub yang terdegradasi.
Peluang bagi manajer Inggris untuk menangani klub dengan posisi relatif aman di Premier League kini sangat langka, apalagi klub dengan ambisi gelar juara. Kondisi ini semakin mempertegas bahwa pelatih lokal terpinggirkan di kompetisi level tertinggi Inggris.
Dominasi Spanyol dan Globalisasi Premier League
Papan atas Premier League musim ini akan terasa sangat Spanyol. Wilayah Basque, khususnya Gipuzkoa, ternyata memasok lebih banyak pelatih ke liga Inggris daripada Inggris sendiri, dengan Arsenal, Aston Villa, Chelsea, dan Liverpool semuanya ditangani manajer dari area kecil di Spanyol utara tersebut. Arteta, Xabi Alonso, dan Andoni Iraola bahkan menangani tiga dari empat klub teratas di pasar taruhan gelar juara, sementara Unai Emery di Aston Villa menempati posisi ketujuh.
Meski Manchester City tetap menjadi favorit setelah berganti manajer pasca era Guardiola, dominasi pelatih Spanyol di papan atas tidak bisa diabaikan. Fenomena ini memperkuat narasi bahwa Premier League benar-benar kompetisi global di semua lini, tidak hanya di lapangan tetapi juga di bangku pelatih, ruang pemilik klub, dan jajaran direktur olahraga.
Berkurangnya peluang manajer lokal sebenarnya mengikuti tren yang sudah berlangsung lama di atas lapangan. Pada 1992-93, hanya 8,6 persen menit bermain diberikan kepada pemain dari luar Inggris atau Irlandia, tetapi angka itu melonjak menjadi rekor tertinggi 69,6 persen musim lalu. Kompetisi ini telah menjadi panggung internasional dalam segala aspeknya.
Head Coach vs Manajer: Batas yang Semakin Kabur
Pengaruh direktur olahraga dalam keputusan rekrutmen turut mengaburkan garis antara peran head coach dan manajer. Liam Rosenior menyebut dirinya “sangat rendah hati dan bangga” ketika ditunjuk sebagai head coach Chelsea pada Januari, sementara Xabi Alonso mengaku “sangat bangga menjadi manajer klub besar ini” untuk peran yang sama kurang dari enam bulan kemudian. Berdasarkan pengumuman resmi klub, Premier League saat ini mempekerjakan 14 head coach dan enam manajer.
Apa pun sebutan perannya, kenyataannya masa kerja mereka sama-sama singkat. Chelsea memberikan kontrak empat tahun kepada Alonso, padahal sejak kepergian Conte pada 2018 tidak ada manajer yang bertahan lebih dari dua tahun di Stamford Bridge. Bahkan lebih jauh lagi, tidak ada yang bertahan tiga tahun sejak masa pertama Mourinho berakhir lebih dari satu dekade lalu.
Rosenior sendiri belajar dengan cara yang keras. Ia menandatangani kontrak enam setengah tahun, tetapi Chelsea sebelumnya mempertahankan Rafael Benítez dan Guus Hiddink sebagai manajer interim lebih lama daripada masa kerja pria asal Inggris itu. Head coach atau manajer, apa pun sebutannya, profesi ini belum pernah terasa lebih asing dan lebih singkat masa kerjanya seperti sekarang di Premier League.
Kesimpulan
Premier League musim 2026-27 akan menjadi musim dengan pergantian manajer terbanyak, koleksi gelar juara paling minim, dan kehadiran pelatih Inggris paling langka dalam era kompetisi ini. Tren globalisasi dan tekanan hasil instan membuat kursi kepelatihan semakin tidak aman bagi siapa pun. Kompetisi ini mungkin akan semakin berwarna, tetapi bagi para manajer, tidak ada tempat yang aman.
Vinícius Júnior resmi memperpanjang kontraknya bersama Real Madrid hingga 30 Juni 2032. Kepastian ini langsung mengakhiri spekulasi yang membayangi masa depannya sepanjang bursa transfer musim panas. Klub asal Spanyol itu mengumumkan kesepakatan perpanjangan kontrak enam musim dengan pemain asal Brasil tersebut.
Bagi Arsenal, kabar ini jelas menjadi pukulan telak. Klub juara Premier League itu selama ini santer dikaitkan dengan Vinícius setelah kontraknya di Santiago Bernabéu memasuki tahun terakhir. Situasi makin pelik ketika Real Madrid menjalani musim 2025-26 yang berat dan sempat terjadi ketidakpastian setelah kedatangan José Mourinho.
Vinícius Junior Perpanjang Kontrak Real Madrid Hingga 2032
Real Madrid mengonfirmasi perpanjangan kontrak ini melalui pernyataan resmi klub. “Real Madrid dan Vinícius Júnior telah menyepakati perpanjangan kontrak pemain kami, yang mengikatnya dengan klub hingga 30 Juni 2032,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Dengan begitu, masa depan pemain berusia 26 tahun itu akhirnya jelas setelah sebelumnya ia hanya memiliki sisa kontrak satu tahun di Bernabéu.
Vinícius pun menyambut kabar ini dengan penuh suka cita melalui akun Instagram pribadinya. “Delapan tahun di Bernabéu terasa terlalu singkat… enam tahun lagi, dan selamanya!” tulisnya. Unggahan itu sekaligus menegaskan bahwa pemain binaan Flamengo itu memilih bertahan di ibu kota Spanyol untuk jangka panjang.
Kronologi Spekulasi dan Musim yang Berat
Kepastian ini tidak datang tanpa drama. Sepanjang musim 2025-26, Real Madrid gagal memenangkan satu pun trofi di semua kompetisi yang diikuti. Kegagalan tersebut menjadi pangkal masalah yang membuat masa depan Vinícius mulai dipertanyakan publik.
Ditambah lagi, kedatangan José Mourinho awalnya menimbulkan ketidakpastian di ruang ganti Real Madrid. Kondisi inilah yang membuat Arsenal mulai memantau perkembangan sang pemain secara serius. Arsenal sempat dianggap sebagai tujuan paling realistis jika Vinícius benar-benar hengkang dari Bernabéu.
Frustrasi juga datang dari kancah internasional ketika Brasil tersingkir secara mengejutkan di babak 16 besar Piala Dunia di Amerika. Namun, Vinícius tetap menunjukkan loyalitasnya kepada Real Madrid. Dalam wawancara internal pada Selasa lalu, ia bahkan mengungkapkan bahwa Mourinho menginginkannya bahagia dan ceria setelah melewati periode sulit tersebut.
Rekor dan Kontribusi Besar Vinícius di Real Madrid
Vinícius pertama kali bergabung dengan Real Madrid pada Juli 2018 di usia 18 tahun. Selama delapan musim berseragam Los Blancos, ia telah mencatatkan 375 penampilan dan mencetak 128 gol. Catatan itu membuktikan betapa pentingnya peran Vinícius di lini serang Real Madrid.
Koleksi trofinya pun terbilang impresif. Ia telah memenangkan 14 gelar bersama Real Madrid, termasuk dua Liga Champions, tiga Piala Dunia Antarklub, dua Piala Super UEFA, tiga gelar La Liga, satu Copa del Rey, dan tiga Piala Super Spanyol. Klub menegaskan kontribusi Vinícius sangat krusial, baik dari sisi permainan, assist, maupun gol-gol yang ia ciptakan.
Sebagai eks pemain muda Flamengo, Vinícius kini memasuki fase terbaik kariernya. Dengan kontrak baru berdurasi panjang, ia memiliki kepastian untuk terus berkembang di Bernabéu. Kesempatan untuk menambah deretan trofi dan mencetak lebih banyak rekor pun terbuka lebar.
Dampak bagi Arsenal dan Ambisi Real Madrid
Gagal mendapatkan Vinícius tentu menjadi pukulan besar bagi rencana Arsenal di bursa transfer. Sebagai juara Premier League, Arsenal harus segera mencari alternatif lain untuk memperkuat lini serang mereka. Situasi ini memaksa klub asal London Utara itu beranjak dari target lamanya dan menyusun strategi baru.
Bagi Real Madrid, perpanjangan kontrak ini adalah langkah strategis untuk menjaga daya saing. Mereka tidak hanya mengamankan aset paling berharga, tetapi juga mengirim pesan kepada pesaing bahwa Los Blancos masih menjadi magnet bagi pemain bintang dunia. Dengan kontrak hingga 2032, Real Madrid memiliki kepastian jangka panjang di sektor depan.
Kini Vinícius akan berfokus membantu Real Madrid kembali bersaing memperebutkan gelar besar di bawah kepemimpinan Mourinho. Kombinasi pengalaman, kecepatan, dan kualitas yang ia miliki diharapkan menjadi motor kebangkitan tim pada musim depan. Target utamanya jelas: membawa Los Blancos kembali ke puncak kejayaan.
Bursa Transfer Real Madrid yang Makin Sibuk
Perpanjangan kontrak Vinícius hanyalah satu dari rangkaian langkah besar Real Madrid pada musim panas ini. Klub telah memperkuat skuad dengan sejumlah rekrutan baru, antara lain penyerang sayap Yan Diomande, gelandang Bernardo Silva, bek tengah Ibrahima Konaté, bek kiri Marc Cucurella, dan wing-back Denzel Dumfries. Kedatangan para pemain ini membuktikan ambisi Real Madrid untuk bangkit.
Dengan skuad yang lebih segar dan lengkap, Real Madrid tidak ingin mengulang kegagalan musim lalu. Kehadiran pemain anyar di berbagai lini akan memberi fleksibilitas taktis yang lebih besar bagi Mourinho. Ditambah kepastian Vinícius bertahan, fondasi Real Madrid untuk bersaing di level tertinggi kembali kokoh.
Langkah ini juga menjadi sinyal tegas ke klub-klub Eropa lainnya bahwa Real Madrid mampu mempertahankan talenta terbaiknya dalam jangka panjang. Mereka tidak hanya membeli pemain bintang, tetapi juga menjaga stabilitas skuad dari musim ke musim. Musim depan pun akan menjadi ujian sesungguhnya bagi kebangkitan Los Blancos.
Kesimpulan
Kepastian Vinícius Junior bertahan menjadi salah satu cerita terbesar bursa transfer musim panas ini. Arsenal harus mengubur harapan mereka, sementara Real Madrid sukses mengunci salah satu pemain terbaiknya hingga 2032. Perpanjangan kontrak ini sekaligus menegaskan bahwa rencana jangka panjang Real Madrid masih berpusat pada pemain asal Brasil tersebut.
Dengan rekrutan anyar yang datang dan komitmen Vinícius yang terjamin, Real Madrid kini memiliki modal kuat untuk bangkit setelah musim tanpa trofi. Semua mata kini tertuju pada bagaimana Mourinho meramu skuadnya agar Los Blancos kembali menjadi kekuatan dominan di Eropa. Musim baru akan menjadi jawaban atas semua pertanyaan besar yang sempat menggantung.
Tekanan terhadap presiden FIFA, Gianni Infantino, semakin besar setelah sejumlah negara menarik dukungan mereka pasca gagalnya rencana penjualan hak komersial Piala Dunia yang kacau. Pertanyaan besarnya kini adalah bagaimana arah dukungan konfederasi FIFA kepada Infantino menjelang pemilihan presiden yang akan datang. Apakah akan muncul penantang serius, atau justru Infantino tetap aman karena dukungan dari benua Asia dan Afrika masih kuat?
Dalam struktur FIFA, enam konfederasi — UEFA (Eropa), AFC (Asia), CONCACAF (Amerika Utara dan Tengah), CAF (Afrika), CONMEBOL (Amerika Selatan), dan OFC (Oseania) — memegang peran penentu dalam setiap pemilihan. Masing-masing punya kepentingan, sejarah hubungan, dan tingkat ketergantungan finansial yang berbeda terhadap FIFA. Kombinasi dari faktor-faktor inilah yang akan menentukan apakah Infantino mampu bertahan atau justru tersingkir dari kursi kekuasaannya.
(FILES) FIFA president Gianni Infantino reacts during the 2026 World Cup Group D football match between USA and Paraguay at the Los Angeles Stadium in Inglewood on June 12, 2026. Wales on August 3, 2026 became the first nation to publicly withdraw support for FIFA president Gianni Infantino’s re-election bid over his failed plan to sell off stakes in the World Cup. (Photo by Frederic J. BROWN / AFP)
Peta Dukungan Konfederasi FIFA untuk Infantino
UEFA: Paling Vokal Menuntut Perubahan
UEFA menjadi motor utama gerakan untuk menyingkirkan Infantino dari kursi presiden FIFA. Ancaman untuk memboikot seluruh kompetisi FIFA pekan lalu, jika skema Fifa Forward Enterprise tidak dihapus, disebut-sebut menjadi penyebab besar kegagalan rencana tersebut. Dalam pernyataan keras pada Sabtu, UEFA menegaskan bahwa kepemimpinan FIFA saat ini “tidak hanya kehilangan kepercayaan UEFA, tetapi juga banyak anggota keluarga sepak bola lainnya”.
Sejumlah asosiasi anggota UEFA, termasuk federasi sepak bola Inggris dan Wales, telah menarik surat dukungan mereka untuk pencalonan ulang Infantino. Upaya terus dilakukan agar asosiasi lain melakukan hal yang sama demi melemahkan posisi Infantino secara permanen. Langkah ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap Infantino di kubu Eropa bukan sekadar wacana, melainkan gerakan nyata yang terorganisir dan terus digencarkan.
AFC: Terpecah dan Menunggu Arah Angin
Laporan yang menyebut AFC mendukung langkah UEFA masih terlalu prematur, karena konfederasi Asia ini justru terpecah. AFC memang telah menyuarakan penolakan terhadap rencana kesepakatan Piala Dunia tersebut dan menyerukan reformasi FIFA, sebuah sikap yang tergolong berani dibanding pernyataan-pernyataan mereka sebelumnya. Namun, para pemimpin AFC lebih marah pada cara proposal itu disusun ketimbang pada detail kesepakatan itu sendiri.
Jika Infantino benar-benar terlihat sedang dalam kesulitan, kepemimpinan AFC bisa saja berpindah haluan. Akan tetapi, sebagian besar federasi Asia justru tidak ingin Infantino digantikan, dan negara-negara berpengaruh seperti Qatar, Uni Emirat Arab, serta Arab Saudi masih berada di belakangnya. Presiden AFC, Sheikh Salman, memiliki ambisi sendiri dan selama ini sukses menjaga kesatuan Asia, tetapi situasi ini menjadi ujian berat — terutama setelah Pangeran Ali bin Hussein dari Yordania melontarkan tuduhan “pemerasan” yang bisa menjadi momen penting dalam dinamika politik FIFA.
CONCACAF: Menuntut Pertanggungjawaban Penuh
CONCACAF termasuk konfederasi yang paling tegas menentang Infantino dan proposal Fifa Forward Enterprise. Mereka langsung menolak rencana itu, lalu mengeluarkan pernyataan tajam setelah proposal ditarik yang mengarahkan kritik langsung kepada kepemimpinan Infantino. Dalam rilis yang mewakili 41 asosiasi anggota CONCACAF, rencana tersebut disebut sebagai “gejala kepemimpinan yang berhenti mengutamakan sepak bola” dan “tindakan sepihak serta keterlaluan dalam tata kelola yang buruk”.
Pernyataan itu juga menyerukan “penghitungan menyeluruh terhadap masa kepresidenan ini”, sebuah nada yang hampir setara dengan mosi tidak percaya di luar mekanisme pemilihan. Menariknya, presiden CONCACAF Victor Montagliani juga menjabat wakil presiden FIFA dan menjadi kandidat utama jika ada keinginan bersama untuk menjatuhkan Infantino. Meski Montagliani sebelumnya cenderung bungkam saat ditanya soal itu, pernyataan tegas atas nama konfederasi menunjukkan setidaknya ia tidak menutup kemungkinan untuk melawan Infantino.
CAF: Dukungan Bulat untuk Infantino
Berbeda dengan Eropa dan Amerika Utara, Afrika justru menunjukkan solidaritas penuh kepada Infantino. Patrice Motsepe, presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), menyatakan bahwa 54 asosiasi anggota CAF secara bulat mendukung pencalonan ulang Infantino dalam pemilihan di Maroko tahun depan. Dukungan dari blok Afrika ini menjadi modal politik yang sangat berharga bagi Infantino untuk mempertahankan kursinya.
CONMEBOL: Diam dan Pragmatis
CONMEBOL justru memilih bungkam di tengah hiruk-pikuk penolakan terhadap Infantino. Presidennya, Alejandro Domínguez, sibuk mengirim ucapan ulang tahun kepada individu, klub, dan institusi dari Uruguay, tempat ia berkunjung menjelang perayaan seratus tahun Piala Dunia pertama pada 2030. Baru setelah beberapa hari, CONMEBOL mengeluarkan pernyataan yang cenderung netral, menekankan sepak bola di atas segalanya dan meminta informasi serta klarifikasi lebih lanjut — dan sejak itu tidak ada pernyataan resmi lagi.
Menurut Marina Mendez, direktur AD Sporting Industry Professionals yang juga konsultan sepak bola di kawasan tersebut, posisi CONMEBOL paling tepat disebut sebagai “dukungan yang hati-hati, bukan konfrontasi terbuka”. Sikap ini menunjukkan CONMEBOL ingin menjaga hubungan kelembagaan dengan FIFA dan tetap memiliki ruang negosiasi, sekaligus mengamankan akses dan pengaruh sepak bola Amerika Selatan di dalam FIFA. Brasil dan Argentina menjadi negara utama di konfederasi ini, dan Domínguez disebut pandai menjaga hubungan dengan keduanya, sementara sebagian besar negara lain biasanya mengikuti arah yang sama.
OFC: Masih Menimbang Sikap
Oseania belum menentukan sikap final hingga saat ini. Selandia Baru sebagai anggota terbesar konfederasi dengan cepat menentang proposal Piala Dunia itu, meskipun OFC sendiri tidak berkomitmen pada sikap tersebut. Masih ada dukungan terhadap Infantino di antara federasi-federasi lain di kawasan Pasifik, terutama mereka yang selama ini merasakan manfaat langsung dari kebijakan FIFA.
Jejak Hubungan Infantino dengan Setiap Konfederasi
UEFA: Dari Orang Dalam Menjadi Lawan Politik
Infantino adalah produk asli UEFA, menjabat sebagai sekretaris jenderal dari 2009 hingga 2016, dan UEFA menjadi pendukung kuatnya saat pertama kali maju sebagai calon presiden FIFA. Namun, hubungan antara badan sepak bola dunia dan konfederasi dari benua paling kuat ini memburuk secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. UEFA berulang kali menangkis inisiatif Infantino seperti wacana Piala Dunia dua tahun sekali dan rencana investasi SoftBank pada 2018.
Puncak ketegangan terjadi pada Mei 2025 ketika delegasi sejumlah federasi Eropa berjalan keluar dari kongres FIFA sebagai protes atas keterlambatan kedatangan Infantino. Mereka menuduh Infantino mengejar “kepentingan politik pribadi” dalam berbagai kebijakannya. Kontroversi yang tak kunjung reda sepanjang tahun lalu semakin memastikan bahwa perbedaan antara kedua kubu sudah sulit untuk didamaikan.
Asia, Afrika, dan Oseania: Kedekatan yang Terbangun Lama
Hubungan Infantino dengan Asia terjalin erat sejak ia mengalahkan Sheikh Salman dalam pemilihan 2016. Salman dan AFC disebut melihat Infantino sebagai pemimpin yang mudah dihubungi, terbuka, dan memberi perhatian setara kepada semua kawasan — sesuatu yang langka di mata Asia. Perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim diterima baik di Asia, bahkan wacana 64 tim pun disambut positif, sehingga tak heran Infantino terus mengingatkan Asia akan manfaat-manfaat di bawah kepemimpinannya.
Di Afrika, jejak Infantino panjang dan tidak lepas dari kontroversi. Ia mendukung Ahmad Ahmad dari Madagaskar untuk menjatuhkan Issa Hayatou sebagai presiden CAF pada Maret 2017, sebuah intervensi yang membuat Hayatou marah besar di hadapan Infantino dan Sekretaris Jenderal FIFA saat itu, Fatma Samoura. Masa kepemimpinan Ahmad justru berakhir dengan pemecatan karena pelanggaran etika, dan FIFA sempat mengambil alih administrasi harian CAF dari Agustus hingga Desember 2019 — langkah yang di banyak kalangan Afrika disebut sebagai tindakan neo-kolonial dan pelanggaran atas otonomi CAF.
Di Oseania, Infantino bekerja keras membangun hubungan personal sekaligus finansial, dan para pejabat OFC kerap menyebutnya sebagai teman. Perluasan Piala Dunia ke 48 tim akhirnya memberi Oseania satu jatah otomatis yang selama ini dijanjikan tetapi tidak pernah diwujudkan FIFA, dan ide jatah lebih banyak dalam kompetisi 64 tim juga dinilai menarik. Di bawah kepemimpinan Infantino, Selandia Baru menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia Wanita bersama Australia, dan FIFA turut mendukung pendirian Liga Profesional Oseania yang dimulai pada Januari lalu.
CONCACAF dan CONMEBOL: Dinamika yang Berbeda
Hubungan Infantino dengan CONCACAF tidak terlalu panjang, dimulai dari penetapan Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026. Sebelum pernyataan keras CONCACAF akhir pekan lalu, tidak banyak ikatan historis langsung antara Infantino dan konfederasi ini. Sementara itu, hubungan CONMEBOL dengan Infantino justru terbangun dari momen-momen penting, seperti kunjungannya ke markas Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) setelah kematian Julio Grondona, ketika FIFA turun tangan mengawasi pembersihan internal AFA menyusul temuan jumlah suara yang tidak wajar dalam pemilihan.
Gol Rio Ngumoha Bawa Liverpool Menang Tipis atas Wrexham
Liverpool berhasil meraih kemenangan kedua dalam tur pramusim mereka setelah menundukkan Wrexham dengan skor 1-0 di Yankee Stadium, New York. Satu-satunya gol dalam pertandingan ini dicetak oleh pemain muda Rio Ngumoha pada menit ke-75 lewat tembakan yang mengenai bek Wrexham, Lewis Brunt, sehingga bola berubah arah dan masuk ke gawang. Laga Liverpool vs Wrexham ini disaksikan oleh 42.204 penonton, termasuk dua pemilik klub Wrexham yang terkenal, Ryan Reynolds dan Rob McElhenney.
Persiapan Liverpool Terganggu Masalah Penerbangan
Perjalanan Liverpool menuju New York tidak berjalan mulus. Tim asuhan Andoni Iraola harus menghadapi pembatalan penerbangan dari Chicago pada Selasa malam karena cuaca buruk di wilayah New York. Akibatnya, para pemain dan staf baru tiba di hotel kawasan Midtown sekitar tengah hari pada hari pertandingan. Setelah laga, mereka langsung kembali ke Chicago. Gangguan logistik ini tentu mempengaruhi kesegaran pemain, namun Iraola tetap bisa meraih hasil positif.
Absennya Beberapa Pemain Kunci
Sejumlah pemain bintang tidak tampil dalam pertandingan ini. Florian Wirtz, Alexander Isak, dan Ryan Gravenberch masih dalam masa pemulihan setelah Piala Dunia dan belum siap bermain. Joe Gomez cedera, sementara Federico Chiesa absen karena sakit. Dengan kondisi tersebut, Iraola terpaksa menurunkan tim yang sangat eksperimental dengan enam pemain di starting XI yang belum memiliki pengalaman di Premier League.
Skuad Muda Jadi Sorotan, Joshua Abe Tampil Perdana
Meski tim banyak diisi pemain muda, hal itu justru memberi kesempatan kepada bakat-bakat berbakat untuk unjuk gigi. Joshua Abe, pemain sayap kanan cepat dan produktif, menjadi sorotan utama. Abe dianggap sebagai salah satu prospek terbaik di Inggris dan baru saja menandatangani kontrak profesional pertamanya dengan Liverpool setelah menolak tawaran dari Manchester City, Manchester United, dan Chelsea. Dalam laga ini, Abe hampir mencetak gol pada menit awal setelah diumpan oleh Harvey Elliott, namun sentuhan pertamanya terlalu keras sehingga kiper Wrexham, Danny Ward, bisa mengamankan bola.
Jalannya Pertandingan: Peluang Terbuang dan Dominasi Fisik Wrexham
Liverpool memulai laga dengan lini depan yang terdiri dari Calum Scanlon, Lewis Koumas, dan Abe. Koumas sempat melepaskan tembakan jarak jauh dan meminta penalti, tetapi wasit mengabaikannya. Dominik Szoboszlai beberapa kali menunjukkan pergerakan impresif dari lini tengah, namun secara keseluruhan pertandingan berjalan cukup tenang. Wrexham, yang sudah lebih siap secara fisik karena kompetisi resmi mereka akan dimulai lebih awal, mulai mendominasi di babak pertama. Sam Smith dan Callum Doyle gagal memanfaatkan peluang yang ada.
Babak Kedua dan Gol Penentu
Pada babak kedua, Iraola melakukan beberapa pergantian. Abe, Scanlon, Milos Kerkez, dan Trey Nyoni digantikan oleh Ngumoha, Kieran Morrison, Kostas Tsimikas, dan Curtis Jones. Elliott mendapatkan peluang emas setelah menerima umpan dari Koumas, namun tembakan pertamanya dari jarak 20 yard masih bisa ditepis Ward. Szoboszlai juga nyaris mencetak gol dari jarak jauh, tetapi Ward kembali tampil gemilang. Gol akhirnya datang dari sepakan Ngumoha yang berbelok arah setelah mengenai Brunt.
Wrexham hampir menyamakan kedudukan lewat tendangan keras Nathan Broadhead dari 25 yard yang ditepis Giorgi Mamardashvili. Brunt dan Kieffer Moore juga memiliki peluang di menit-menit akhir, namun keduanya gagal memanfaatkan bola dari jarak dekat. Skor 1-0 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.
Kesimpulan: Kemenangan Berharga untuk Uji Coba
Meski bukan pertandingan yang spektakuler, kemenangan ini tetap penting bagi Liverpool untuk membangun kepercayaan diri para pemain muda. Bagi Anda yang gemar menganalisis mix parlay, performa pemain seperti Ngumoha dan Abe bisa menjadi bahan pertimbangan menarik di masa depan. Liverpool kini melanjutkan tur pramusim dengan hasil positif, sementara Wrexham fokus mempersiapkan diri untuk laga Carabao Cup melawan Middlesbrough.
Sepak bola Inggris kembali diterpa kabar mengkhawatirkan. Data terbaru dari Kick It Out, organisasi yang fokus memerangi diskriminasi, menunjukkan lonjakan signifikan dalam laporan nyanyian anti imigran di stadion-stadion Inggris. Tren ini menjadi cermin buruk bagi atmosfer pertandingan yang seharusnya menjadi ajang hiburan dan persatuan.
Lonjakan Pelaporan Nyanyian Anti Imigran
Sepanjang musim 2025-26, Kick It Out menerima 39 laporan terkait nyanyian yang menargetkan imigran. Angka ini lebih tinggi dari total dua musim sebelumnya jika digabungkan. Frase seperti “stop the boats” dan “send them back” dilaporkan terdengar di semua level kompetisi, mulai dari liga amatir hingga profesional. Fenomena ini oleh Kick It Out disebut sebagai tren mass chanting bernada diskriminatif yang semakin mengakar.
Peningkatan nyanyian anti imigran ini selaras dengan kenaikan laporan diskriminasi secara keseluruhan, baik di dalam stadion maupun di ruang digital. Total laporan diskriminasi mencapai 1.744 kasus pada musim lalu—sebuah rekor baru dan naik 25% dibanding musim sebelumnya.
Diskriminasi Meningkat di Semua Kategori
Setiap jenis diskriminasi mencatatkan rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir. Berikut rincian laporan yang diterima Kick It Out:
Rasisme: 792 laporan (45% dari total), naik 19%.
Seksisme: 216 laporan, naik 12%.
Homofobia: 203 laporan, naik 46%.
Anti-Semitisme: 93 laporan, naik 43%.
Ableisme (diskriminasi terhadap difabel): 89 laporan, naik 20%.
Islamofobia: 60 laporan, naik 88%.
Kenaikan drastis ini menunjukkan bahwa permasalahan diskriminasi di sepak bola Inggris masih jauh dari kata selesai. Isu nyanyian anti imigran menjadi salah satu wajah baru dari problem lama yang kian kompleks.
Sepak Bola Akar Rumput dan Pelecehan Wasit Juga Terdampak
Diskriminasi tidak hanya terjadi di level elite. Laporan dari sepak bola akar rumput (grassroots) naik untuk kelima kalinya secara berturut-turut, mencapai 248 laporan—naik 33% dibanding musim sebelumnya. Selain itu, pelecehan terhadap wasit tercatat sebanyak 98 laporan, angka yang sama dengan gabungan tiga musim sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya diskriminatif telah merambah hingga ke lapangan-lapangan kecil, dan membutuhkan intervensi serius dari semua pihak.
Respon Pemain dan Otoritas
Samuel Okafor, CEO Kick It Out, mengatakan bahwa peningkatan laporan juga mencerminkan keberanian para korban dan saksi untuk bersuara. “Angka-angka ini membuktikan diskriminasi masih tertanam dalam pertandingan, seiring meningkatnya ujaran kebencian di masyarakat. Namun, ini juga menunjukkan orang-orang semakin berani melawan pelecehan,” ujarnya.
Ia memuji langkah para pemain profesional yang menjadi contoh. Misalnya, bek timnas wanita Inggris, Jess Carter, yang melaporkan pesan bernada kebencian hingga pelaku divonis hukuman percobaan pada Maret lalu. Di kubu pria, Antoine Semenyo juga mengungkap pelecehan rasis yang diterimanya sepanjang musim, dan satu kasus sudah dijadwalkan untuk disidangkan pada September mendatang.
Temuan Kick It Out ini sejalan dengan laporan UK Football Policing Unit pekan lalu. Polisi mencatat bahwa sebagian kenaikan bisa disebabkan oleh perbaikan mekanisme pelaporan, misalnya kategori diskriminasi misoginis yang baru diperkenalkan awal musim lalu. Baik polisi maupun Kick It Out mendesak platform online untuk lebih proaktif mencegah ujaran kebencian.
Harapan ke Depan: Kesadaran yang Kian Membaik
Meskipun angka diskriminasi memprihatinkan, tren positif juga terlihat: semakin banyak orang yang berani melapor. Okafor menegaskan, “Kami akan terus bekerja sama dengan otoritas sepak bola, klub, liga, regulator, dan pemerintah untuk memastikan keberanian melapor diiringi dengan tindakan yang jelas dan konsisten. Sepak bola harus menjadi tempat yang menyambut semua orang.”
Lonjakan nyanyian anti imigran dan bentuk diskriminasi lainnya menjadi alarm keras bagi industri sepak bola Inggris. Namun, dengan meningkatnya kesadaran dan keberanian untuk melawan, masih ada harapan untuk menciptakan stadion yang aman dan inklusif bagi semua kalangan.
Belanja Pemain Premier League Musim Panas 2025: Tidak Ada yang Menandingi
Kekuatan finansial Premier League benar-benar tak tertandingi. Klub-klub di kasta tertinggi Inggris itu secara kolektif telah menginvestasikan lebih dari £1,4 miliar untuk pemain baru pada musim panas ini (berdasarkan biaya yang diungkapkan saja). Angka ini sekitar £303 juta lebih besar dari total belanja 76 klub dari Bundesliga, La Liga, Ligue 1, dan Serie A jika digabungkan. Fenomena ini kembali menegaskan betapa dominannya belanja pemain Premier League dibanding liga-liga top Eropa lainnya.
Angka tersebut adalah pengeluaran bruto, belum memperhitungkan penjualan pemain untuk menyeimbangkan neraca. Jika faktor penjualan dimasukkan, kesenjangan semakin melebar. Klub-klub Ligue 1 dan Bundesliga justru mencatat surplus masing-masing £203,4 juta dan £72,2 juta dari aktivitas transfer mereka. Sementara La Liga (£163,1 juta) dan Serie A (£124,1 juta) memang lebih banyak membelanjakan daripada pendapatan, tetapi mereka masih tercecer jauh dari net spend Premier League yang mencapai £523,6 juta.
Kesenjangan yang Terus Melebar
Pola ini bukanlah hal baru; sudah menjadi tren selama bertahun-tahun. Namun yang mengkhawatirkan bagi klub-klub di seluruh Eropa adalah celah antara Premier League dan liga lain kemungkinan akan semakin lebar sebelum jendela transfer musim panas ditutup. Meskipun pengeluaran sangat besar, klub-klub papan atas Inggris telah menghabiskan sekitar £230 juta lebih sedikit dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pada 1 Juli lalu, baru 25 kesepakatan yang rampung—jauh lebih sedikit dari 47 kesepakatan pada tahun sebelumnya. Faktor Piala Dunia yang diperluas kemungkinan menunda sejumlah transfer, sehingga berpotensi menciptakan lonjakan belanja transfer yang akan segera tercatat.
Klub Promosi dan Target Belanja
Tiga klub promosi—Ipswich, Hull, dan Coventry—hanya mengeluarkan dana £8 juta lebih banyak jika dibandingkan dengan Sundalone pada titik yang sama di tahun 2025. Musim lalu, Régis Le Bris mendatangkan total 18 pemain baru untuk Sunderland, sementara sesama tim promosi Burnley (15) dan Leeds (11) juga mencapai dua digit belanja pemain. Dengan standar ini, Ipswich (7 pemain baru), Hull (4), dan Coventry (3) jelas harus menambah skuad.
Klub dengan Belanja Besar: Aston Villa, Brighton, Tottenham
Menilai klub secara individual memperjelas mengapa sebagian besar dari mereka kemungkinan akan terus berbelanja. Aston Villa, Brighton, dan Tottenham sudah menghabiskan lebih banyak dalam hitungan bruto dibandingkan total mereka di jendela musim panas 2025. Unai Emery memiliki dana bersih £109,6 juta yang menganggur setelah kepergian Morgan Rogers dan Youri Tielemans. Brighton membutuhkan skuad lebih besar karena akan berlaga di Conference League, sementara Tottenham berharap memperbaiki peringkat ke-17 mereka secara berturut-turut. Net spend Tottenham sebesar £149,7 juta menjadi yang tertinggi di lima liga top Eropa, dan perdagangan mereka mungkin belum selesai.
Chelsea dan Klub Lain yang Terus Membelanjakan
Chelsea juga memiliki net spend lebih tinggi daripada tahun lalu, bahkan sebelum kesepakatan yang dilaporkan untuk Maxence Lacroix dari Crystal Palace terealisasi. Jika transfer itu tidak jadi, apakah Anda berani bertaruh BlueCo tidak akan mengeluarkan lebih banyak uang—terutama dengan manajer baru yang perlu didukung? Danny Welbeck menjadi nama terbaru yang dikaitkan dengan Stamford Bridge. Hal yang sama berlaku untuk Everton, Fulham, Manchester City, dan Newcastle; semuanya mungkin masih memiliki rencana belanja pemain tambahan.
Klub yang Belum Banyak Berbelanja: Arsenal, Liverpool, Manchester United
Di sisi lain skala Premier League, Arsenal, Liverpool, dan Manchester United secara kolektif menghabiskan dua pertiga miliar lebih sedikit untuk pemain baru dibandingkan musim panas lalu. Rumor terbaru menyebutkan juara bertahan mungkin bergerak untuk Vinícius Júnior. Jika bukan pemain Brasil itu, mungkin Bradley Barcola—meskipun Liverpool juga dikabarkan mengejar winger PSG tersebut. Tidak ada dari mereka yang murah. United diyakini menargetkan Ollie Watkins; harga pemain Aston Villa itu tidak akan semahal Vinícius atau Barcola, tetapi Villa juga tidak akan menjual ke rival dengan harga miring.
Klub yang Belum Mengeluarkan Biaya Transfer
Ada pula klub-klub Premier League yang belum mengeluarkan biaya transfer sama sekali. Crystal Palace, Nottingham Forest, dan Sunderland kemungkinan tidak akan mengakhiri musim panas tanpa mengeluarkan uang. Palace dan Sunderland akan lolos ke kompetisi Eropa musim ini, sehingga sangat tidak bijak jika mereka tidak berinvestasi. Forest, seperti Chelsea, memiliki hasrat tinggi terhadap perputaran pemain akhir-akhir ini. Dengan kepergian Elliot Anderson dengan biaya besar, penggantinya pasti akan segera datang.
Prospek Akhir Jendela Transfer: Rekor Baru?
Sungguh luar biasa memikirkan bahwa Premier League mungkin belum mencapai setengah dari total belanja musim panas mereka, padahal £1,4 miliar telah dikeluarkan. Musim panas lalu, klub-klub papan atas Inggris secara kolektif menghabiskan £3,1 miliar untuk rekrutmen, dengan lebih dari £600 juta terjadi pada pekan terakhir jendela transfer. Angka itu bisa saja terpecahkan ketika jendela transfer ditutup pada 3 September mendatang. Dengan belanja pemain Premier League yang terus mengalir deras, dominasi finansial liga ini dipastikan akan semakin kokoh—dan semakin menakutkan bagi kompetitor di seluruh Eropa.
Federico Chiesa mengaku ingin memulai “babak baru” di Liverpool di bawah asuhan manajer baru Andoni Iraola. Pemain sayap Italia itu mengalami masa frustrasi selama ditangani Arne Slot musim lalu, dan kini berharap peluangnya bermain lebih banyak terbuka lebar.
Meski mencatatkan 36 penampilan musim lalu, Chiesa hanya menjadi starter dalam lima pertandingan. Salah satu starter di Premier League terjadi saat Liverpool mengalami krisis cedera di lini depan, dan start terakhirnya adalah di kemenangan FA Cup atas Brighton pada 14 Februari.
Ketidakpuasan di Bawah Arne Slot
Pemain berusia 28 tahun itu menegaskan bahwa ia selalu berusaha memberikan yang terbaik, termasuk saat masih di bawah arahan Slot. Namun, ia merasa siap untuk peran yang lebih besar, tetapi keputusan tetap ada di tangan pelatih. “Saya merasa siap, tetapi itu tergantung pelatih apakah ia menginginkan saya bermain atau tidak,” ujar Chiesa.
Ia menambahkan bahwa pelatih memiliki rencana permainan sendiri dan ia tidak mempermasalahkannya. Kini dengan hadirnya Iraola, Federico Chiesa melihat ini sebagai awal baru yang perlu ia manfaatkan sebaik mungkin.
Belum Bicarakan Masa Depan dengan Iraola
Meski optimistis, Chiesa mengaku belum berbicara secara spesifik tentang perannya bersama Iraola. “Satu-satunya percakapan yang saya lakukan dengannya adalah soal pressing dan taktik. Ia menempatkan saya sebagai striker saat melawan Sunderland, dan ia menginginkan saya di posisi itu,” jelas mantan pemain Juventus tersebut.
Ketika ditanya soal kemungkinan kembali ke Serie A—dengan Como dan Juventus dikaitkan—Federico Chiesa menegaskan prioritasnya adalah membuktikan diri di Liverpool. “Saat ini saya bahagia di sini. Saya cinta klub, fans, dan segalanya. Saya lakukan yang terbaik untuk mendapatkan kesempatan,” katanya.
Liverpool Beruntung Lolos ke Liga Champions
Musim lalu Liverpool nyaris gagal lolos ke Liga Champions, dan Chiesa mengaku klub harus berterima kasih pada keberuntungan. “Liverpool layak mendapat lebih. Dua tahun lalu kami juara Premier League, musim lalu kami hampir kehilangan posisi Liga Champions. Kami bertarung untuk peringkat kelima, yang saat itu cukup, tapi biasanya hanya empat yang lolos. Kami beruntung,” tegasnya.
Ia menambahkan tim harus tampil lebih baik musim ini, baik di Liga Champions maupun Premier League, setelah tersingkir oleh PSG di Liga Champions musim lalu. “Kami ingin melangkah lebih jauh,” pungkas Chiesa.
Target Kembali ke Timnas Italia
Selain fokus di klub, Federico Chiesa juga berharap bisa merebut kembali tempatnya di skuad Italia. Ia absen dalam beberapa pemanggilan karena kebugaran fisik dan cedera. “Saya berbicara dengan pelatih Gennaro Gattuso, saat itu saya belum siap secara fisik. Ketika kembali pada Maret, saya cedera. Tapi saya menantikan bermain untuk tim nasional. Saya pernah menang bersama mereka (Euro 2020), dan selalu menyenangkan bermain dan menang untuk tim sendiri,” tutup Chiesa.
Era Andoni Iraola di Liverpool resmi dimulai dengan kemenangan meyakinkan atas Sunderland dalam laga uji coba di Nashville. Namun, euforia kemenangan itu sedikit terusik oleh cedera yang menimpa bek utama mereka, Joe Gomez. Masalah di lini belakang yang sudah menjadi perhatian sejak awal pramusim kini semakin memprihatinkan.
Kemenangan 3-1 atas Sunderland di Geodis Park memang terasa manis. Gol dari Dominik Szoboszlai, Federico Chiesa, dan Lewis Koumas di babak kedua memastikan Liverpool pulang dengan hasil positif. Namun, cedera Gomez yang hanya bertahan 10 menit di lapangan membuat pelatih kepala baru harus berputar otak mencari solusi pertahanan.
Gomez Cedera, Duo Muda Gantikan
Iraola tidak menutupi kekhawatirannya. “Berita terburuk adalah cedera Joe,” akunya. “Kami sempat senang karena tidak ada pemain yang cedera selama latihan, tapi nasib buruk langsung datang.” Gomez harus ditarik keluar setelah mengalami cedera awal, dan posisinya digantikan oleh dua bek tengah berusia 18 tahun, Mor Talla Ndiaye dan Ifeanyi Ndukwe. Duo remaja ini direkrut pada Januari lalu dan baru kali ini bermain bersama di pertandingan resmi pramusim.
Ketika Gomez meninggalkan lapangan, ban kapten sempat dipegang Kostas Tsimikas sebelum akhirnya beralih ke Szoboszlai saat babak pertama usai. Situasi ini menggambarkan betapa rapuhnya lini belakang Liverpool saat ini. Dengan Virgil van Dijk dan Alisson belum bergabung penuh, serta Ibrahima Konate yang sudah hengkang ke Real Madrid, beban tanggung jawab di pundak Van Dijk musim depan akan sangat besar.
Laga Perdana dengan Suasana Sepi
Pertandingan ini juga menjadi ajang penghormatan untuk legenda Kevin Keegan yang baru saja meninggal. Kedua suporter memberikan tepuk tangan meriah sebelum hening sejenak mengenang jasa sang legenda Liverpool, Hamburg, dan Newcastle. Sayangnya, atmosfer stadion tidak terlalu ramai. Dari kapasitas 30.000 penonton, hanya 24.897 tiket yang terjual. Harga tiket yang melambung—dari $129 hingga $392 (sekitar Rp2 juta hingga Rp6 juta)—mungkin menjadi penyebab minimnya kehadiran penonton di laga pramusim ini.
Sunderland sendiri tampil tanpa beberapa pemain kunci seperti Granit Xhaka, Brian Brobbey, dan Thomas Meunier. Sementara Liverpool kehilangan banyak pemain inti yang masih berlibur setelah Piala Dunia, seperti Alexis Mac Allister, Victor Munoz, Florian Wirtz, Alexander Isak, dan Ryan Gravenberch. Virgil van Dijk, Cody Gakpo, dan Alisson juga baru akan bergabung latihan minggu depan di markas Liverpool.
Rekrutan Baru Belum Main
Satu nama yang absen di laga ini adalah Jeremy Jacquet, bek anyar yang diboyong dari Rennes dengan biaya awal £55 juta. Iraola memilih berhati-hati dengan pemain yang sudah lama tidak bermain. “Kami memutuskan untuk tidak memaksanya. Dia akan bermain mungkin di pertandingan terakhir tur AS melawan Leeds di Chicago,” ujar Iraola. Jacquet dianggap sebagai investasi jangka panjang meski belum diuji di Premier League.
Kebijakan Liverpool merekrut bek muda seperti Talla Ndiaye (£1 juta dari Amitie Senegal) dan Ndukwe (£2,5 juta dari Austria Wina) menunjukkan fokus pada masa depan. Namun, kebutuhan jangka pendek di lini belakang jelas mendesak. Dengan Gomez yang rentan cedera, Jacquet yang belum siap, dan Giovanni Leoni yang masih dalam pemulihan cedera ACL, Van Dijk harus memikul tanggung jawab ekstra musim depan.
Gol Bersejarah Era Iraola
Dalam trivia masa depan, gol pertama era Iraola di Liverpool dicetak oleh Kieran Morrison. Winger berusia 19 tahun yang bermain di posisi sayap kanan—posisi yang ditinggalkan Mohamed Salah—menyelesaikan umpan Harvey Elliott dengan tendangan akurat ke sudut gawang. Elliott sendiri tampil bersemangat membuktikan diri setelah musim yang kurang memuaskan di Aston Villa.
Sunderland sempat membalas lewat gol indah Enzo Le Fée dari jarak 25 yard, dan bahkan berbalik unggul setelah jeda melalui aksi Jaydon Jones dan Timur Tutierov. Namun, Szoboszlai menyamakan kedudukan dengan tendangan keras dari luar kotak penalti. Chiesa kemudian mencetak gol spektakuler memanfaatkan umpan terobosan Calvin Ramsay, sebelum Koumas menutup kemenangan Liverpool.
Kesimpulan
Meski hasil akhir memuaskan, laga uji coba ini menjadi pengingat bagi Iraola bahwa ia harus segera memperkuat lini belakang. Cedera Gomez yang tampaknya cukup serius menambah daftar masalah yang harus dipecahkan sebelum Premier League dimulai. Tur AS masih menyisakan satu pertandingan melawan Leeds, dan semua mata akan tertuju pada bagaimana Iraola merotasi pemain serta memberi kesempatan kepada talenta muda seperti Morrison dan Koumas untuk bersinar.
Klopp Ingin Ubah Wajah Timnas Jerman, Tapi Beri Peringatan Keras ke Media
Jürgen Klopp resmi diperkenalkan sebagai pelatih baru timnas Jerman menggantikan Julian Nagelsmann. Dalam konferensi pers perdananya, Klopp menyatakan ingin membawa perubahan besar bagi sepak bola Jerman, namun ia juga memberikan ultimatum tegas: jika keluarganya terus diteror media, ia siap mundur tanpa kompensasi.
Pelatih berusia 59 tahun itu ditugaskan untuk membangkitkan kembali kejayaan Jerman yang sejak Piala Dunia 2014 hanya dua kali lolos ke babak 16 besar. Kegagalan di Piala Dunia 2022 (kalah dari Paraguay di 32 besar) menjadi titik balik yang membuat federasi sepak bola Jerman (DFB) memanggil Klopp.
Klopp sebelumnya menjabat sebagai kepala sepak bola global Red Bull sejak Januari 2025, setelah meninggalkan Liverpool pada 2024 karena kelelahan. Kembalinya Klopp ke kursi pelatih sudah dinantikan publik sejak Nagelsmann hengkang pada 3 Juli lalu.
Misi Besar: Ubah Hubungan Timnas dengan Publik Jerman
Klopp berjanji akan memperbaiki hubungan yang retak antara timnas Jerman dan masyarakat. Mengambil contoh pengalamannya di Liverpool, ia percaya sepak bola bisa menyatukan komunitas luas. “Saya ingin menciptakan situasi di mana fans pulang ke rumah dan berkata, ‘Wow, itu tadi keren.’ Saya ingin orang berkata, ‘Setelah menonton 90 menit, rasanya layak menyalakan TV untuk melihat Jerman bermain.’ Saya sudah merasakan bagaimana sepak bola bisa mengubah sebuah kota. Dan saya pikir ini bukan hanya tentang kota, tetapi juga tentang negara. Idealnya, sepak bola bisa mengubah sebuah negara,” ujarnya.
Ancaman Mundur: “Jika Keluarga Saya Tidak Dibiarkan Tenang, Saya Pergi”
Kontrak Klopp akan berlangsung hingga setelah Piala Dunia 2030. Namun, ia tidak segan meninggalkan jabatan jika media melanggar privasi keluarganya. “Saya menerima pekerjaan ini meskipun saya melihat bagaimana kalian memperlakukan Nagelsmann. Saya menerima pekerjaan ini meskipun saya melihat bagaimana kalian memperlakukan Thomas Tuchel di Inggris. Hari ketika kalian tidak menginginkan saya lagi, saya pergi tanpa pesangon. Jika besok kalian bilang ‘Dia payah,’ katakan langsung ke wajah saya dan saya akan keluar. Jika kalian bersikap buruk dan tidak membiarkan keluarga saya tenang, saya pergi, saya akan berbalik dan pergi,” tegasnya.
Klopp juga mengakui bahwa menjadi pelatih timnas Jerman adalah puncak kariernya. “Kritik saya jika ada yang tidak berhasil. Jürgen Klopp tidak akan punya karier lain setelah timnas. Ini adalah puncak karier saya sebagai pelatih. Saya akan berikan segalanya.”
Permintaan Maaf atas Candaan soal Nagelsmann
Klopp sempat dikritik karena candaannya saat menjadi komentator televisi di Piala Dunia. Ia mengatakan bahwa Nagelsmann “masih” memilih tim – yang diartikan sebagai isyarat bahwa Nagelsmann akan segera diganti. Klopp pun meminta maaf berkali-kali. “Itu adalah lelucon yang salah. Dalam retrospeksi, itu salah satu komentar ‘lucu’ terburuk yang pernah saya buat. Saya sangat menyesal, saya sudah minta maaf berjuta kali. Itu hanya ucapan tergesa-gesa tanpa maksud tersembunyi,” katanya. Ia juga mengucapkan selamat ulang tahun ke-39 untuk Nagelsmann dan yakin mantan pelatih itu akan mendapat banyak peluang melatih tim besar di masa depan.
Gaya Main: Sepak Bola ala Jerman yang Intens, Bukan Tiru Negara Lain
Klopp berjanji timnas Jerman akan bermain dengan sayap-sayap lebar dan sepak bola ekspansif. Namun, ia mengakui harus menemukan cara sendiri bersaing dengan kedalaman skuad negara lain. “Kesuksesan adalah performa relatif terhadap ekspektasi. Ketika kami bertanya ‘Apakah kami sebaik Prancis?’ dan jawabannya tidak, itu tidak benar. Jika kami bertanya ‘Apakah kami punya pemain seperti Dembélé, Mbappé, Doué, dan Barcola?’, tidak, kami tidak punya, tetapi kami tetap bisa mengalahkan mereka,” ujarnya.
“Kami tidak ingin bermain seperti Argentina, Spanyol, Inggris, atau Prancis. Kami ingin melakukannya dengan cara Jerman, sangat intens. Apakah kami tim nomor 1 saat ini? Tidak, kami menerima itu. Ada 11 tim di atas kami dalam peringkat. Kami bisa mengalahkan mereka, tetapi untuk itu kami harus bermain sangat baik dan intens.”
Adaptasi ke Sepak Bola Internasional
Setelah puluhan tahun berkarier di klub, Klopp harus beradaptasi dengan ritme sepak bola internasional. “Kontak dengan tim tidak selalu soal bekerja dengan mereka setiap hari. Kadang hanya 30 menit atau satu jam di lapangan. Tapi semua pemain punya ponsel. Saya akan bicara dengan mereka, mendengarkan, menonton pertandingan, dan memberi umpan balik. Itu juga bagian dari mengembangkan pemain dan membuat mereka lebih baik,” jelasnya.
Ujian Perdana: Hadapi Belanda di Amsterdam
Masa kepelatihan Klopp akan langsung diuji berat saat melawan Belanda di Amsterdam pada 24 September, salah satu dari empat pertandingan Nations League dalam 11 hari. “Para pemain harus menunjukkan kepada saya, bukan hanya mengatakannya, bahwa bermain untuk Jerman adalah hal yang sangat istimewa,” pungkas Klopp.
Dengan segala ambisi dan peringatannya, publik Jerman kini menantikan era baru di bawah arahan Klopp sebagai pelatih timnas Jerman, yang siap mengubah negara lewat sepak bola – asalkan media tidak main-main dengan keluarganya.